Between the Lines: Na Willa
Na Willa adalah film keluarga yang hadir pada libur lebaran tahun ini. Awalnya, aku tidak menyangka film penuh warna ini justru membuatku banyak berefleksi, dan bahkan mendorongku untuk langsung menuangkannya ke dalam tulisan.
And to write 1.056 words, draft, even publish it under 24 hours? Unbelievable. So, here are my thoughts on Na Willa.
Innocence We Once Had
First of all, Na Willa and I share the same childhood dreams; going to school and getting married hahaha. Lucu ya, anak kecil yang polos, dengan minim pengalaman, justru punya semangat menggebu untuk menuntut ilmu. Orangtuaku bahkan sering mengingatkan (bercanda… atau mungkin tidak?) bahwa dulu aku tidak sabar kembali ke sekolah setiap kali liburan berakhir. There’s something precious about that kind of innocence, a treasure that we need to keep in mind throughout life
Sebuah semangat yang seharusnya tidak hilang, bahwa belajar bukan hanya untuk satu fase hidup, tapi sepanjang hayat. Film ini mengingatkan bahwa dulu kita pernah punya semangat itu. Dan sebagai orang dewasa, rasanya tidak adil kalau kita justru kehilangannya. Because in the end, life itself is a school—and we are always learning.
A Child’s Dream of Marriage
Now let’s talk about the dream of all daughters around the world, to be married. Alasannya sama dan sederhana, karena bisa pakai gaun indah yang berkilau, bersolek dengan lipstik, dan menyisipkan mahkota di kepala. Kalau dipikir-pikir, ini efek samping tumbuh dengan tontonan seperti Barbie, yang selalu berakhir bahagia dengan visual yang cantik. Polos banget ya anak kecil tuh!
Ketika Na Willa, tokoh utama dari film ini, mengutarakannya kepada Ibunya (yang dipanggil Mak), Mak terkejut. Tapi percakapan ringan pada adegan itu, mengingatkan kita kembali bahwa pernikahan bukan soal satu malam penuh gemerlap. Pernikahan adalah tentang tanggung jawab, tentang amanah. Tentang sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar menjadi “ratu sehari”.
"Jadi ga bisa main lagi ya?" tanya Willa dengan polosnya.
Mak menjawab dengan sabar, "Iya,"
....baik Mak, noted.
Honesty and the Pebble in the Shoe
Dalam film ini, percakapan sehari-hari antara Willa dan Mak bisa menyinggung topik dewasa yang disampaikan secara sederhana, dicapture melalui logika anak kecil. Kerennya, cukup menyentuh hati orang dewasa, seperti contoh di atas. Contoh lainnya ketika Mak menjelaskan konsep jujur dan bohong kepada anaknya. Mak menjelaskan, bahwa berbohong itu seperti ada kerikil di dalam sepatu, kecil, tapi mengganggu setiap langkah. Lama-lama, kita tidak bisa berjalan dengan nyaman karena selalu ada yang mengganjal dan mengganggu. Oleh karenanya, manusia seharusnya bisa berlaku dan bertutur kata dengan jujur, agar langkah kita ringan di kemudian hari. Tidak mengganggu pikiran, hati, sehingga nyaman dalam menjalani hidup dan beraktivitas.
Film ini tidak berhenti di teori, namun juga contoh dari pelajaran di atas. Hal ini terlihat saat Mak akhirnya berbohong, dan menodai prinsip yang ia tanamkan kepada Willa. Willa sadar Mak telah berbohong, anak kecil yang polos itu merasa Mak sudah melanggar prinsip yang ditanamkan kepadanya. Ia marah kepada Mak dan Mak akhirnya meminta maaf kepada Willa.
Ternyata, hal ini bukan sekedar mencemari kepercayaan Willa terhadap konsep jujur dan bohong, namun juga tanpa sadar melukai hati seorang Ibu yang terpaksa 'menelan ludah sendiri' dengan berbohong di depan anaknya. Hal ini meninggalkan rasa bersalah di hati Mak, yang juga tidak lekas hilang. Mak pun meminta maaf kepada Willa karena sudah berbohong. Konflik sederhana ini, tanpa sadar membuat air mataku jatuh. Suasana yang dibangun, akting dan sorot mata yang ditampilkan para pemain, menyentuhku.
Communication is the Key
What I really appreciate is, Na Willa is brave enough to confront her mother, and Mak consciously addresses that matter by apologizing. Direct communication with direct problem solving.
Mereka memilih untuk menghadapi rasa tidak nyaman itu, meskipun pahit, daripada membiarkannya menjadi snowball yang bisa merusak hubungan di kemudian hari. Communication is the key.
By the time goes by, aku sadar dimana Willa bisa begitu jujur dalam menyampaikan perasaannya. Dari kedua orangtuanya. Ayah Na Willa seorang pelaut yang jarang berada di rumah. Tapi kasih sayangnya begitu terasa lewat guratan tinta yang ditulis dengan hangat dan penuh cinta, rutin ia kirimkan kepada yang terkasih. Juga Mak yang selalu membalas suratnya dengan penuh rasa, menceritakan segala hal yang mengganggu pikirannya, termasuk rasa bersalah ketika ia sudah berbohong di depan anak semata wayangnya. Terus dibalas lagiii oleh Ayah dengan penuh ketenangan, seolah memberikan pelukan dan rasa aman lewat tulisannya.
Let’s ignore the fact pada tahun 60an, surat memang menjadi alat komunikasi utama ya haha.
But still, I can see how the parents’ warm and consistent communication is reflected in their child’s behavior.
A Home That Feels Safe
Hal ini juga tercermin saat Na Willa kecewa dengan perlakuan yang ia dapatkan di sekolah. Ia dengan jujur mengungkapkan rasa tidak nyaman dan tidak aman itu kepada Mak. It's beautiful to see, seorang anak yang bisa terbuka mengomunikasikan perasaannya kepada Ibunya. Ia percaya bahwa ibunya adalah tempat yang cukup aman untuk menjadi rentan. Tentu saja hal ini tidak akan tercipta tanpa adanya ikatan emosional yang begitu kuat, komunikasi dua arah, sehingga orangtua bisa menjadi 'rumah' yang sebenarnya bagi seorang anak. Tempat mereka bercerita hal sepele maupun rumit, tempat berbagi kebahagiaan dan gelak tawa yang menyenangkan, hingga tempat bersandar di hari yang melelahkan.
What a warm home can be, as it should be.
And perhaps, this is not only about family, but about partnership too.
May we all have someone who can be our anchor in a rough sea amidst the storm,
and a home gentle enough to hold us when the world feels too loud.
Pelajaran ini disampaikan secara sederhana namun spot on. Again, communication is the key! Oleh karenanya kita harus mau berkomunikasi dengan jujur, mengungkapkan apa yang ada di pikiran, hati, dan realita yang terjadi. Aku pikir ini sebuah pelajaran hidup sederhana yang bisa diterapkan ke siapa saja; keluarga, teman, kolega, bahkan pasangan.
Honesty, clarity, communication—isn’t that what keeps a relationship alive?
What keeps the spark of human connection?
***
Demi apa siiih aku bisa menuliskan ini semua? Hahahaha. Even I can’t believe it. I don’t know what changed in me this year, or what exactly shaped me to be this reflective. But here I am, writing all of this, feeling all of this.
Na Willa adalah film “semua umur” yang ternyata menyentuh sisi dewasa dalam diri kita.
Film ini mengingatkan kita pada kepolosan, pada kejujuran, dan pada cara sederhana melihat hidup—yang justru sering kita lupakan saat dewasa.
Dan mungkin, itulah kenapa film ini terasa begitu dekat. Keren sih, film ini.

Comments